PENGEMBANGAN SISTEM PENGOLAHAN SAMPAH RAMAH LINGKUNGAN DI KOTA TERNATE MELALUI PROGRAM 6M

1 Feb

Oleh: Ade Haerullah

Berdasarkan Undang-Undang No. 18 Tahun 2008, sampah adalah sisa kegiatan sehari-hari manusia dan/atau proses alam yang berbentuk padat. Pengelolaan sampah dimaksudkan adalah kegiatan yang sistematis, menyeluruh, dan  berkesinambungan yang meliputi pengurangan dan penanganan sampah. Berdasarkan sifat fisik dan kimianya sampah dapat digolongkan menjadi: 1) sampah ada yang mudah membusuk terdiri atas sampah organik seperti sisa sayuran, sisa daging, daun dan lain-lain; 2) sampah yang tidak mudah membusuk seperti plastik, kertas, karet, logam, sisa bahan bangunan dan lain-lain; 3) sampah yang berupa debu/abu; dan 4) sampah yang berbahaya (B3) bagi kesehatan, seperti sampah berasal dari industri dan rumah sakit yang mengandung zat-zat kimia dan agen penyakit yang berbahaya.

Pertambahan jumlah penduduk, perubahan pola konsumsi, dan gaya hidup masyarakat telah meningkatkan jumlah timbulan sampah, jenis, dan keberagaman karakteristik sampah.  Meningkatnya daya beli masyarakat terhadap berbagai jenis bahan pokok dan hasil teknologi serta meningkatnya usaha atau kegiatan penunjang pertumbuhan ekonomi suatu daerah juga memberikan kontribusi yang besar terhadap kuantitas dan kualitas sampah yang dihasilkan. Meningkatnya volume timbulan sampah memerlukan pengelolaan. Pengelolaan sampah yang tidak mempergunakan metode dan teknik pengelolaan sampah yang ramah lingkungan selain akan dapat menimbulkan dampak negatif terhadap kesehatan juga akan sangat mengganggu kelestarian fungsi lingkungan baik lingkungam pemukiman, hutan, persawahan, sungai dan lautan.

Sampah kota berasal dari berbagai sumber yaitu pemukiman, pertokoan, pasar, fasilitas umum misalnya gelanggang olah raga dan gedung bioskop, industry, dan layanan kesehatan misalnya rumah sakit atau puskesmas. Dari berbagai sumber sampah tersebut, timbulan terbesar berasal dari rumah tangga yaitu berkisar 60-80%. Henie (2002) bahwa sebagian masyarakat di kota kecil membuang sampah ke sungai, tetapi tidak menyebabkan permasalahan sebab jumlahnya sedikit dan kondisi dan kondisi sungai yang mampu mengadakan self purification. Jadi pengolahannya masih terbatas pada tingkat rumah tangga.

Pengelolaan sampah dapat dilakukan oleh setiap sumber sampah dengan menerapkan pengelolaan sampah melalui program 6M. Manfaat 6M antara lain: melestarikan sumber daya alam, memudahkan pengolahan sampah rumah tangga, mengurangi jumlah sampah yang ditimbulkan oleh setiap rumah tangga, sehingga dapat mengurangi timbulan sampah kota. Dengan berkurangnya timbulan sampah kota berarti menghambat biaya pengelolaan sampah, lingkungan lebih indah, sehat, bersih, dan aman (Irawati,2002).

Fakta yang terlihat sehari-hari menunjukkan bahwa umumnya sampah-sampah domestik atau industri, baik dari bahan  organik maupun non-organik dibuang begitu saja dalam satu bak sampah yang sama dan tercampur satu-sama lain dalam berbagai komposisi, dan kemudian melalui berbagai cara transportasi, sampah berpindah tempat mulai dari tempat sampah di rumah sampai ke tempat pembuangan akhir (TPA).  Berdasarkan hasil observasi juga dapat dijelaskan bahwa di kota Ternate baru melaksanakan pengolahan sampah dengan menerapkan program 3M yaitu mengurangi,  menggunakan kembali, dan mengompos. Tetapi itupun masi tergolong rendah karena belum semua masyarakat dapat menerapkan pengelolaan sampah melalui program 3M tersebut.

Upaya pengelolaan sampah yang ramah lingkungan ini perlu dilakukan mulai dari sumber timbulan sampah, pewadahan, pengumpulan, pemindahan, pengangkutan sampai ke tahap pengolahan akhir sampah. Upaya-upaya pemanfaatan kembali sampah yang masih bisa di daur ulang harus dilakukan sehingga dapat mengurangi sampah secara kuantitatif. Permasalahannya adalah sejauh manakah tingkat kesadaran masyarakat untuk membantu mengelola sampah yang dihasilkan. Jangankan mengelola tapi menempatkan sampah pada wadah yang telah disediakan pun sangatlah langka dilakukan hal ini dikarenakan kurangnya kesadaran masyarakat tentang pentinggnya menjaga kebersihan. Selain itu masyarakat  menganggap bahwa pengelolaan sampah merupakan tanggung jawab Pemerintah Kota dalam hal ini instansi Dinas Kebersihan atau lainnya yang menangani pengelolaan sampah.

Kota Ternate merupakan salah satu kota kecil yang berada di Provinsi Maluku Utara. Kota ternate terdiri dari 6  kecamatan yaitu kecamatan Ternate Utara, Ternate Selatan, Ternate Tengah, Pulau Ternate, Pulau Moti dan pulau Batang Dua. Dengan total luas Wilayah 579.540 Ha,  dan jumlah penduduknya  selalu mengalami peningkatan dari tahun ke tahun.  Timbulan sampah yang di hasilakan oleh masyarakat kota Ternate di TPA  yaitu 351 m3/hari dengan tingkat pelayanan 70% dari jumlah penduduk 285.453 jiwa (BPS Kota Ternate, 2009). Seiring peningkatan jumlah penduduk serta aktifitas masyarakatnya yang beragam maka volume timbulan dan komposisi sampah juga ikut bertambah. Penambahan jumlah timbulan sampah di TPA berpengaruh  terhadap luas lahan yang harus disediakan di TPA. pihak institusi dalam hal ini Dinas Kebersihan  perlu menyiapkan alternatif  jangka panjang untuk menghadapi permasalahan ini, alternatif yang harus di siapkan yatu sistem pengelolaan sampah dari sumbernya. Sementara itu, rendahnya pengetahuan, kesadaran, dan tingkat partisipasi masyarakat dalam pengelolaan sampah menjadi suatu permasalahan yang perlu mendapat perhatian dalam pengelolaan lingkungan bersih dan sehat.

Permasalahan terpenting yang harus ditangani oleh Pemerintah Daerah Kota Ternate sekarang dan akan datang adalah bagaimana mengelolah sampah yang ramah lingkungan sehingga dapat mewujudkan Kota  madani yang aman dan bersih lingkungannya. Untuk mewujudkan kota bersih dan hijau, pemerintah telah mencanangkan berbagai program yang pada dasarnya bertujuan untuk mendorong dan meningkatkan kapasitas masyarakat dalam pengelolaan sampah. Program Adipura misalnya pada tahun 2007 telah mampu mengantarkan Kota Terante menjadi Kota Adipura karena semua kelurahan berhasil mendapatkan Anugerah Adipura. Walaupun telah mendapat adipura bukan berarti tidak terdapat permasalahan sampah, Apresiasi pemerintah dan masyarakat selalu dituntut untuk melakukan pengelolaan sampah sehingga pada gilirannya sampah dapat diolah secara mandiri dan menjadi sumberdaya.

Berdasarkan hasil observasi dapat dijelaskan bahwa tingkat partisipasi masyarakat Kota Ternate dalam menangani sampah secara mandiri masih kurang. Masyarakat masih enggan melakukan pemilahan sampah, akibatnya sampah semakin hari semakin sulit dikelolah. Mencermati fenomena tersebut maka sangatlah diperlukan model pengelolaan sampah yang baik dan tepat serta ramah lingkungan dalam upaya mewujudkan perkotaan yang  bersih dan hijau di kota Ternate.

Pengelolaan sampah bertujuan untuk meningkatkan kesehatan masyarakat dan kualitas lingkungan serta menjadikan sampah sebagai sumberdaya. Dari sudut pandang kesehatan lingkungan,  pengelolaan sampah dipandang baik jika sampah tersebut  tidak menjadi media berkembang biaknya  bibit penyakit serta sampah tersebut tidak menjadi medium perantara menyebarluasnya  suatu penyakit. Syarat lainnya yang harus dipenuhi, yaitu tidak mencemari udara, air dan tanah, tidak menimbulkan bau (tidak mengganggu nilai estetis), tidak menimbulkan kebakaran dan yang lainnya ( Aswar, 1986 dalam Nitikesari 2005).

Menurut Irawati (2002) pengolahan sampah (urban solid waste management) di kota terbentuk oleh dua sistem pengolahan. Pertama sistem pengolahan sampah formal yakni sistem pengolahan sampah yang meliputi kegiatan-kegiatan pewadahan dan pengumpulan, pengangkutan oleh aparat pemerintah setempat melalui Dinas Kebersihan daerah. Kedua sistem pengolahan sampah informal yaitu suatu sistem pengolahan sampah yang terbentuk oleh adanya kebutuhan untuk survei dari sebagian kecil masyarakat kota di tengah transisi ekonomi desa ke kota.

Pengelolaan sampah perkotaan juga memiliki faktor-faktor pendorong dan penghambat dalam upaya peningkatan partisipasi masyarakat dalam pengelolaan sampah. Menurut hasil penelitian Nitikesari (2005) faktor-faktor tersebut di antaranya adalah tingkat pendidikan, penempatan tempat sampah di dalam rumah, keberadaan pemulung, adanya aksi kebersihan, adanya peraturan tentang persampahan dan penegakan hukumnya.

DESKRIPSI PENGOLAHAN SAMPAH DI KOTA TERNATE

  1. A.    KONDISI  PENGOLAHAN SAMPAH KOTA TERNATE SAAT INI

Pelaksanaan sistem pengelolaan sampah di suatu kota tidak dapat dilaksanakan tanpa adanya koordinasi yang baik secara internal maupun eksternal, masyarakat dan pihak-pihak terkait yang memberikan andil cukup besar dalam peningkatan jumlah timbulan sampah. Instansi yang menangani masalah persampahan di Kota Ternate adalah Dinas Kebersihan Kota Ternate. Sistem pengelolaan yang diterapkan di Kota Ternate tidak jauh berbeda dengan sistem pengelolaan sampah yang diterapkan di kota-kota yang ada di indonesia pada umumnya, yaitu sistem pengelolaan sampah secara konvensional. Pada sistem pengelolaan konvensional ini sangat diperlukan adanya armada angkut sampah yang digunakan untuk pengangkutan sampah dari sumber sampah sampai ke TPS maupun TPA. Pola pengumpulan sampah yang diterapkan di Kota Ternate adalah pola pengumpulan secara langsung (door to door) dan pola pengumpulan tidak langsung (komunal). Armada angkut yang digunakan di Kota Ternate adalah dump truk dan armroll. Dimana sampah domestik telah dikumpulkan oleh masyarakat di depan rumahnya masing-masing dan sampah jalan dikumpulkan oleh petugas penyapu jalan. Sampah ini di kumpulan di TPS komunal maupun Container yang telah di sediakan oleh Dinas Kebersihan Kota Ternate dan untuk memudahkan pengangkutan ke TPA.

Sampah yang ditampung di TPA dibiarkan secara open dumping dengan ketinggian 1-3 m  kemudian di ratakan dengan memakai alat berat. Selain itu sampah organik sebagian diolah oleh Dinas Kebersihan untuk menjadi kompos dan sampah anorganik yang masih dapat didaur ulang diambil oleh para pemulung kemudian dijual untuk menambah pendapatannya.

  1. 1.      Timbulan Sampah

Timbulan sampah yang terdapat di daerah pelayanan tidak semuanya dapat diangkut ke TPA  hal ini disebabkan kurang meratanya sarana kebersihan di Kota Ternate serta kurangnya kesadaran masyarakat untuk berpartisipasi aktif dalam penanganan masalah persampahan. jumlah penduduk Kota Ternate pada tahun 2009 adalah  285.453 jiwa (BPS Kota Ternate, 2009).

  • Dilihat dari data pada tahun 2009 bahwa jumlah penduduk yang terlayani oleh Dinas Kebersihan Kota Ternate adalah:

–      Tinngkat pelayanan                        = 70%

–      Jumlah penduduk terlayani                        = 285.453 jiwa x 70%  = 199.817 Jiwa

–      Jumlah penduduk yang tidak terlayani = 285.453 jiwa x 30% = 85.636 Jiwa.

–      Jumlah timbulan sampah Kota Ternate sebesar 351 m3/hari (Data Inventaris TPA Buku deru-deru, 2009).

  1. 2.      Komposisi dan Karakteristik Sampah

Dari banyaknya penduduk di Kota Ternate yang menghasilkan sampah. Karakteristik sampah yang dihasilkan sebagian besar berupa sampah domestik.

  1. Komposisi Sampah

Komposisi sampah di TPA gunanya untuk mengetahui komponen sampah baik dari sampah organik maupun anorganik. Untuk mengetahui komposisi sampah di TPA Buku deru-deru dapat diperoleh dengan cara meneliti langsung dari volume sampah yang masuk ke TPA. tabel 4.1 adalah komposisi sampah di TPA buku deru-deru kota Ternate (dalam prosentase (%) berat) yang diteliti selama 3 hari berturut-turut. Dari hasil penelitian diketahui bahwa setiap 1m3 sampah memiliki berat rata-rata 223,65 kg.

Tabel 1. Komposisi sampah di TPA Buku deru-deru dalam satuan berat

No

Komponen sampah

Prosentase

(%)

Berat sampah

(kg)

Keterangan

1.

2.

3.

4.

5.

6.

7.

Sisa makanan

Kertas

Plastik

Kaca/gelas

Kulit

Logam

kaleng

81,30

3,20

4,33

3,67

0,27

3,17

4,07

63.821,40

2.512,04

3.401,71

2.878,37

209,34

2.485,87

3.192,38

Volume rata-rata 351m3/hari.

 

Berat rata-rata 223,65 kg/hari.

               Sumber: Dinas Kebersihan Kota Ternate, 2009

  1. Karakteristik sampah di Kota Ternate berdasarkan sumbernya yaitu:

–      Pemukiman atau rumah tangga yaitu sampah berupa sisa makanan, sayur kertas, plastik dan pecahan kaca.

–      Daerah perdagangan atau komersil yaitu sampah berupa kertas, plastik dan sayur mayur.

–      Instansi atau perkantoran yaitu sampah berupa kertas, plastik dan lain-lain.

–      Tempat umum dan jalan yaitu berupa daun kering kertas dan plastik.

  1. 3.      Pewadahan Sampah

Pola pewadahan sampah yang digunakan di Kota Ternate adalah pola pewadahan sampah individual dan pola pewadahan sampah komunal.

  1. Pola pewadahan individual : diperuntukan bagi daerah pemukiman berpenghasilan tinggi dan daerah komersial. Bentuk yang dipakai tergantung selerah dan kemampuan pengadaannya dari pemiliknya dengan kriteria:

–      Bentuk                        : Kotak, selinder, kantung, kontainer.

–      Sifat                : Dapat diangkat, tertutup.

–      Bahan         : Logam, plastik, alternatif bahan darus bersifat kedap terhadap air, panas matahari, tahan diperlakukan kasar, mudah dibersikan.

–      Ukuran        : 10-50 liter untuk pemukiman, toko kecil, 100-500 liter untuk kantor, toko besar, hotel, rumah makan.

  1. Pola pewadahan komunal : diperuntukan bagi daerah pemukiman sedang atau kumuh, taman kota, jalan pasar bentuk ditentukan oleh instansi pengelola karena sifat penggunaannya adalah umum dengan kriteria:

–      Bentuk              : Kotak, selinder, container.

–      Sifat                   : Tidak bersatu dengan tanah, dapat diangkat, tertutup.

–      Bahan                 : Logam, plastik, alternatif bahan harus kedap air, panas patahari, tahan diperlakukan kasar, mudah dibersihkan.

–      Ukuran              : 100-500 liter untuk pinggir jalan, taman kota, 1-10 m3 untuk pemukiman dan pasar.

  1. 4.   Pengumpulan dan Pengangkutan Sampah

Operasi pengumpulan sampah menggunakan metode  secara langsung (door to door ) dan secara tidak langsung (komunal) yang biasa di lakukan:

  1. a.  Derah pemukiman

              Pengumpulan sampah dari sumber sampah  (pemukiman) sampai ke transfer depo dikelolah sendiri oleh masyarakat.

  1. Pengambilan sampah secara langsung dilakukan dengan cara penduduk meletakan sampah di depan rumah masing-masing dengan kemasan plastik atau tempat sampah pelayanan-pelayanan tersebut dilakukan di daerah pemukiman di sekitar jalan-jalan protokol atau jalan raya.
    1. Daerah pertokoan/komersil

Pada umumnya derah pertokoan terletak di depan jalan raya sehingga sampah yang di hasilkan langsung diangkut oleh instansi terkait ke transfer depo terdekat dan kemudian diangkut langsung oleh petugas kebersihan Kota Ternate setiap harinya.

  1. Daerah Pasar: Pada wilayah pasar instansi Dinas Kebersihan Kota Ternate telah menyediakan container sebagai transfer depo dan container ini diangkut bilah sampahnya telah penuh.
    1. Penyapuan jalan dan tempat-tempat umum

Penyapuan jalan di tempat-tempat umum dilakukan oleh petugas Dinas kebersihan Kota Ternate.

  1. Pembersihan trotoar dan penyiangan rumput

Guna meningkatkan kebersihan kota disamping dilakukan penyapuan jalan setiap hari, dilakukan juga pembersihan berm dan trotoar meliputi penyiangan rumput dan material lain di sekitar jalan.

  1. Pembersihan Drainase

Pembersihan drainase jalan raya dilakukan oleh semua civitas dinas kebersian setiap hari jumat. Pembersihan drainase ini guna mengangkat sampah yang ada di dalam drainase serta pengangkutan tanah yang ada di dalam drainase tersebut hal ini dilakukan guna menghindari banji pada musim hujan akibat tersumbatnya drainase.

  1. Pengangkutan Sampah

Kegiatan pengangkutan sampah di Kota Ternate dilakukan dengan menggunakan armada angkut berupa dump truk dam armroll. Pengangkutan ini bertujuan untuk mengangkut sampah dari titik pengumpulan (transfer depo maupun TPS) ke tempat pembuangan akhir (TPA). kegiatan selama pengangkutan ini meliputi beberapa tahap antara lain:

–  Tahap persiapan

Merupakan tahap persiapan armada angkut dari tempat pemberangkatan untuk menuju ke titik pengumpulan sampah.

–  Tahap pengambilan

Merupakan tahap pengambilan sampah oleh petugas di titik pengumpulan. Dimana waktu yang diperlukan untuk pemindahan sampah dari titik pengumpul untuk dimasukan ke dalam container tergantung dari jumlah timbulan sampah yang terkumpul, biasanya waktu pengambilan ini sekitar 10-15 menit. Pengambilan sampah ini dikerjakan secara manual oleh 4 orang petugas.

–  Tahap perjalanan

Pada tahap ini perjalanan armada angkut ke TPA setelah semua pengambilan sampah di titik pengumpulan selesai dan container telah penuh oleh sampah.

–  Tahap pembongkaran

Merupakan tahap pembongkaran sampah dari container (penuh) di TPA dan sekaligus merupakan kegiatan pengosongan container. Pengosongan sampah dari container pada armroll atau dump truk memerlukan waktu sekitar 5-10 menit dan dikerjakan oleh alat.

  1. Frekwensi pengangkutan

Frekwensi pengangkutan sampah di Kota Ternate 2 kali atau lebih tergantung pada volume sampah. Waktu pengangkutan mulai pukul 05.00 – 09.00 WIT.

  1. Rute pengangkutan

Rute pengangkutan dan praktek di lapangan sering tidak sesuai karena: a) petugas terkadang memprioritaskan transfer depo atau TPS yang penuh sehingga urutan pengangkutan tidak dilakukan secara runtun, b) petugas memilih jalan yang terdekat sehingga ada transfer depo atau TPS yang terabaikan, dan c) petugas lebih memilih jalan yang kondisi lalulintasnya tidak terlalu ramai.

Berdasarkan beberapa pertimbangan tersebut, diperlukan beberapa faktor untuk menunjang kelancaran rute pengangkutan antara lain: 1) Penyesuaian jadwal pengangkutan dengan kondisi lalu lintas, 2) Penyeimbangan antara frekwensi pengangkutan dan kapasitas armada angkut dengan volume timbulan sampah, dan 3) Perbaikan armada angkut dari segi jumlah maupun kualitas untuk mencegah keterlambatan pengangkutan dari segi teknis.

  • Rute yang dilalui dalam pengangkutan sampah di Kota Ternate antara lain:

Di Kota Ternate di kenal dengan 2 jalan raya yaitu jalan raya bagian depan dan jalan raya bagian belakang, rute pengangkutan sampah juga mengikuti ke dua jalan ini.

  1. Peralatan pengangkutan

Peralatan pengangkutan sampah di Kota Ternate tidak jauh berbeda dengan yang ada di kota-kota lain di Indonesia pada umumnya, proses pengangkutan sampah di Kota Ternate di layani oleh sejumlah armada angkut yakni 14 unit dump truk kapasitas 10 m3/unit, armroll 4 unit kapasitas 8 m3/unit, pick up 5 unit kapasitas 4 m3/unit serta 1 unit kijang pick up dan 1 unit kenderaan rota dua sebagai pengontrol selama kegiatan pengangkutan sampah.

  1. 5.         Pengelolaan Sampah di TPA Buku Deru – Deru

                  Menurut data dari Dinas Kebersihan Kota Tenate (2009) teknik pengelolaan sampah existing yang digunakan di TPA buku deru – deru antara lain: Penimbunan, komposting, pemanfaatan Sapi, dan daur ulang

  1. 6.         Tempat Pembuangan Akhir (TPA)

Sistem pembuangan akhir yang diterapkan di Kota Ternate adalah open dumping, TPA yang terdapat di Kota Ternate yaitu:

–      Nama lokasi                   = Desa Takome kecamatan ternate Utara.

–      Luas lahan                      =  60 Ha.

–      Status Tanah                  = Milik Pemda Kota Ternate

–      Sistem  opersi TPA        =  Open Dumping

–      Jarak dari:

  1. Pemukiman terdekat         : 1 Km
  2. Pantai                                : 1 Km
  3. Pusat Kota                                    : 15 Km

Penanganan sampah yang telah dilakukan adalah pengumepulan sampah dari sumber-sumbernya, seperti dari masyarakat (rumah tangga) dan tempat-tempat umum yang dikumpulkan di TPS yang telah disediakan. Selanjutnya diangkut dengan truk yang telah dilengkapi jaring   ke TPA.  Bagi kelurahan-kelurahan yang belum mendapat pelayanan pengangkutan mengingat sarana dan prasara yang terbatas telah dilakukan pengelolaan sampah secara swakelola dengan beberapa jenis bantuan fasilitas pengangkutan.  Bagi  Usaha atau kegiatan yang menghasilkan sampah lebih dari 1 m3/hari diangkut sendiri oleh pengusaha atau bekerjasama dengan pihak lainnya seperti desa/kelurahan atau pihak swasta. Penanganan sampah dari sumber-sumber sampah  dengan cara tersebut cukup efektif.

Beberapa usaha yang telah berlangsung di TPA buku Deru-deru  untuk mengurangi volume sampah, seperti telah dilakukan pemilahan oleh pemulung untuk sampah yang dapat didaur ulang.  Ini ternyata sebagai matapencaharian untuk mendapatkan penghasilan.  Terhadap sampah yang mudah busuk telah dilakukan usaha pengomposan.  Namun usaha tersebut masih menyisakan sampah yang harus dikelola yang memerlukan biaya yang tinggi dan lahan luas. Penanganan sisa sampah di TPA sampai saat ini masih dengan cara pembakaran baik dengan insenerator  atau pembakaran di tempat terbuka  dan open dumping dengan pembusukan secara alami.  Hal ini menimbulkan permasalahan baru bagi lingkungan, yaitu pencemaran tanah, air, dan udara.

  1. B.     PENGOLAHAN SAMPAH YANG IDEAL

Sesuai dengan ketentuan yang ditetapkan pada  Pasal 5  UU Pengelolan Lingkungan Hidup No.23 Th.1997, bahwa masyarakat berhak atas  Lingkungan  hidup yang baik dan sehat. Untuk mendapatkan  hak tersebut,  pada Pasal 6 dinyatakan  bahwa masyarakat  dan pengusaha  berkewajiban untuk berpartisipasi dalam memelihara kelestarian fungsi lingkungan, mencegah dan  menaggulangi pencemaran dan kerusakan lingkungan.  Terkait dengan ketentuan tersebut, dalam UU NO. 18 Tahun 2008 secara eksplisit juga dinyatakan, bahwa setiap orang mempunyai hak dan kewajiban dalam pengelolaan sampah. Dalam hal pengelolaan sampah pasal 12 dinyatakan, setiap orang wajib mengurangi dan menangani sampah  dengan cara berwawasan lingkungan. Masyarakat juga dinyatakan berhak berpartisipasi dalam proses pengambilan keputusan, pengelolaan dan pengawasan di bidang pengelolaan sampah. Tata cara partisipasi masyarakat dalam pengelolaan sampah dapat dilakukan dengan memperhatikan karakteristik dan tatanan sosial  budaya daerah masing-masing. Berangkat dari ketentuan tersebut, tentu menjadi kewajiban dan hak setiap orang  baik secara individu maupun secara kolektif, demikian pula kelompok  masyarakat pengusaha dan komponen masyarakat lain untuk berpartisipasi dalam  pengelolaan sampah  dalam upaya untuk menciptakan lingkungan perkotaan dan perdesaan yang baik,  bersih, dan sehat.

Menurut Irawati (2002) membahas masalah pengolahan sampah (urban solid waste management) akan mengaitkan berbagai aktor pengelola sampah yaitu prmrintah, masyarakat, pemulung/agen, dan pengusaha daurulang. Keberhasilan pengelolaan sampah sangat ditentukan oleh kerja sama dan peran serta aktif dari masing-masing aktor pengelola tersebut. Kenyataannya menunjukkan bahwa kerja dari masing-masing aktor pengelola sampah masih dirasakan terpisah, tidak terpadu dan belum terkoordinasi dengan baik.

Hasil observasi menunjukkan bahwa pengelolaan sampah di kota Ternate belum dapat dilakukan oleh setiap sumber sampah dengan baik, yakni masyarakat masih memiliki tingkat partisipasi yang rendah terhadap pengolahan sampah. Masyarakat sama sekali tidak merasa bersalah dengan menggunungnya sampah di tempat-tempat penampungan sementara sampai berhari-hari bahkan sampai bermingu-minggu. Selain tingkat partisipasi masarakat yang rendah, pemerintah kota Ternate juga belum maksimal dalam kegiatan pengolahan sampah. Karena tidak maksimalnya kinerja pemerintah dalam hal ini adalah dinas kebersihan sehingga  upaya pengelolaan sampah yang di sampaikan oleh dinas kebersihan juga terlihat kontradiksi dengan fakta di lapangan. Salah satu contoh adalah keterlambatan pemerintah dalam menangani pengangkutan sampah yang ada di dua terminal angkutan umum yakni terminal Basiong dan terminal Gamalama. Sampah yang ada di ke dua terminal ini dihasilkan oleh para pedagang yang berjualan di dalam terminal tersebut (seakan mengalih fungsi terminal sebagai pasar). Proses pengalihan fungsi terminal sebagai pasar juga merupakan satu kelemahan kinerja pemerintah daerah (kota Ternate).

Kondisi seperti ini juga menggambarkan bahwa masyarakat maupun pemerintah kota Ternate (Dinas Kebersihan) masih  melaksanakan pengolhan sampah dengan menggunakan sistem TPS-TAS-TPA. Itu pun masih belum maksimal sehingga sampah masih berada di mana-mana.

Menurut Irawati (2002) Pengolahan sampah perkotaan perlu diterapkan budaya “6M” yaitu: mengurangi, menggunakan kembali, mengganti, memisahkan, mendaur ulang, dan mengompos. Program “6M” merupakan upaya pengolahan sampah rumah tangga yang dapat dilakukan oleh pemukiman, pertokoan, pasar, fasilitas umum, industri, dan layanan kesehatan misalnya Rumah Sakit atau Puskesmas, dan fasilitas umum misalnya Gelanggang Olah Raga dan gedung bioskop. Untuk menyukseskan program ini maka dibutuhkan kerja sama yang baik antara aktor pengelolah sampah yakni masyarakat, pemerintah, pemulung, dan pengusaha sehingga dapat menunjang terbentuknya jaringan pengolahan sampah yang menguntungkan dan ramah lingkungan. Secara umum program “6M” tersebut dapat digambarkan pada bagan berikut:

Bagan Alir Program “6M” (sumber: Henie, 2002)

Mengurangi

Menggunakan kembali

Mengganti

Memisahkan

Sampah Basah

Sampah Kering

Dikumpulkan/diberikan

Mengomposkan

Di setiap rumah tangga atau

secara kolektif

atau Diikutkan pengomposan sampah kota

Lapak

Pemulung

Bandar

Industri: Mendaurulang

 Gambar. Program “6M” (Sumber Irawati, 2002)

Kondisi masalah pengolahan sampah di kota Ternate hampir sama dengan di kota-kota lain, akan tetapi sayangnya di kota Ternate belum menerapakan program “6M” sepenuhnya. Sesuai hasil wawancara dengan beberapa aktor pengolahan sampah didapatkan informasi bahwa sampah yang ada di pasar, di terminal, di sarana layanan kesehatan masih belum sepenuhnya terkelolah dengan baik. Menurut bebrapa informan (pedagang di sekitar terminal angkutan umum) bahwa sampah yang ada di sekitar mereka tertimbun hingga mencapai 1-2 meter dan ini dibiarkan sampai berminggu-minggu. Ada beberapa orang yang mencoba untuk memisahkan antara sampah kering dengan sampa basah dan ada sebagian menggunaka sampah yang dianggap masih bisa dimanfaatkan. Tetapi usaha ini hanya melibatkan beberapa orang saja sehingga sampah yang ada tetap tetimbun, selain itu sampah yang telah dipisah oleh beberapa orang tersebut karena tidak di angkut oleh petugas kebersihan sehingga tercampur kembali. Dari hasil observasi tersebut seakan yang salah hanyalah di pihak pemerintah dalam hal ini adalah petugas kebersihan yang berasal dari Dinas Kebersihan kota Ternate. Apalagi mereka saling menginformasikan bahwa mereka telah membayar retribusi sampah melalui rekening air (PDAMD) setiap bulan sebayak Rp.5000. Sehingga hal ini semakin

 sampah adalah tanggung jawab petugas kebersihan.

Pengolahan sampah yang tidak efektif ini tidak hanya terjadi di terminal dan pasar akan tetapai terjadi di pesisir pantai, dimana masyarakat yang berada di pesisir langsung membuang sampah ke laut. Walaupun ada sebagian masyarakat telah mengumpul sampah pada tempat yang dibuat sendiri tetapi akhirnya sampah ini tetap dibuang kelaut. Tingkah laku seperti ini disebabkan karena tidak ada TPS di lingkungan tersebut dan tidak ada pelayanan pengangkutan sampah oleh petugas kebersihan. Selain itu kurangnya partisipasi  masyarakat seperti ini juga terbentuk karena mereka beranggapan bahwa mereka telah membayar  retribusi sampah setiap bulan dan semestinya sampah yang dihasilkan ini telah angkut dan dikelolah dengan baik oleh petugas kebersihan. Masyarakat menganggap bahwa aktor yang bertanggungjawab dalam pengelolaan sampah adalah adalah pemerintah.

Sampai saat ini masih terasa kerja dari masing-masing aktor pengelola sampah masih terpisah, belum terkoordinasi dengan baik. Padahal pengelolaan sampah kota secara umum perlu ditunjang oleh kerjasama yang baik yang dari beberapa aktor pengelola sampah sehingga kerjasama yang baik tersebut dapat menunjang terbentuknya jaringan pengelolaan sampah yang menguntungkan dan ramah lingkungan.

Beberapa pendekatan dan teknologi pengelolaan dan pengolahan sampah yang telah dilaksanakan di Kota Ternate tetapi belum maksimal antara lain adalah:

1.  Teknologi Komposting

Pengomposan adalah salah satu cara pengolahan sampah yang merupakan proses dekomposisi dan stabilisasi bahan secara biologis dengan produk akhir yang cukup stabil untuk digunakan di lahan pertanian tanpa pengaruh yang merugikan (Haug, 1980). Penelitian yang dilakukan oleh Wahyu (2008) menemukan bahwa pengomposan dengan menggunakan metode yang lebih modern (aerasi) mampu menghasilkan kompos yang memiliki butiran lebih halus, kandungan C, N, P, K  lebih tinggi dan pH, C/N rasio, dan kandungan Colform yang lebih rendah dibandingkan dengan pengomposan secara konvensional. Pengolahan sampah dengan cara pengomposan sudah dilakukan di TPA buku deru-deru kota Ternate tetapi masih secara konvensional.

2. Pengelolaan sampah mandiri

Pengolahan sampah mandiri adalah pengolahan sampah yang dilakukan oleh masyarakat di lokasi sumber sampah seperti di rumah-rumah tangga. Masyarakat yang umumnya memiliki ruang pekarangan lebih luas memiliki peluang yang cukup besar untuk melakukan pengolahan sampah secara mandiri. Model pengelolaan sampah mandiri akan memberikan manfaat lebih baik terhadap lingkungan serta dapat mengurangi beban TPA. Pemilahan sampah secara mandiri oleh masyarakat di Kota Ternate  masih tergolong rendah yakni baru mencapai 30% (Sahdi, 2009).

Melalui cara ini diharapkan setidaknya masalah persampahan dapat dipecahkan, disamping itu proses daur ulang limbah yang ada dapat bermanfaat untuk bahan baku sektor industri manufaktur (untuk sampah non organik), industri pertanian / agribisnis, maupun untuk penataan pertamanan dan penghijauan kota (untuk sampah organik).

  1. C.    STRATEGI PENCAPAIAN MODEL PENANGGULANGAN SAMPAH

Pengelolaan sampah dimasa yang akan datang perlu memperhatikan berbagai hal seperti:

  1. Penyusunan Peraturan daerah (Perda)  tentang  pemilahan sampah
  2. Sosialisasi pembentukan kawasan bebas sampah, misalnya  tempat-tempat wisata, pasar, rumah sakit, terminal, jalan-jalan protokol, kelurahan, dan lain sebagainya
  3. Penetapan peringkat kebersihan bagi kawasan-kawasan umum
  4. Memberikan tekanan kepada para produsen barang-barang dan konsumen untuk berpola produksi dan konsumsi yang lebih ramah lingkungan
  5. Memberikan tekanan kepada produsen untuk bersedia  menarik (membeli) kembali dari masyarakat atas kemasan produk yang dijualnya, seperti bungkusan plastik, botol, alluminium foil, dan lain lain.
  6. Peningkatan peran masyarakat melalui pengelolaan sampah sekala kecil, bisa dimulai dari tingkat desa/kelurahan ataupun kecamatan, termasuk dalam hal penggunaan teknologi daur ulang, komposting, dan penggunaan incenerator.
  7. Peningkatan efektivitas fungsi dari TPS-TAS-TPA
  8. Mendorong transformasi (pergeseran) pola konsumsi masyarakat untuk lebih menyukai produk-produk yang berasal dari daur ulang.
  9. Pengelolaan sampah dan limbah secara terpadu dengan menerapkan program “6M”
  10. Melakukan koordinasi dengan instansi terkait baik di pusat maupun daerah, LSM, dan tingkat satuan pendidikan yang dimulai dari Sekolah Dasar sampai ke Perguruan Tinggi untuk peningkatan kapasitas pengelolan limbah perkotaan.
  11. Melakukan evaluasi dan monitoring permasalahan persampahan dan pengelolaannya, kondisi TPA dari aspek lingkungan, pengembangan penerapan teknologi yang ramah lingkungan
  12. Optimalisasi pendanaan dalam pengelolaan sampah perkotaan, pengembangan sistem pendanaan pengelolaan sampah
  13. Konsistensi pelaksanaan peraturan perundangan tentang persampahan dan lingkungan hidup.
  14. Meningkatkan usaha swakelola penanganan sampah terutama sampah yang mudah terurai ditingkat desa/kelurahan
  15. Memberikan fasilitasi, dorongan, pendampingan/advokasi kepada masyarakat dalam upaya meningkatkan pengelolaan sampah.

KESIMPULAN

Model pengolahan sampah hendaknya melibatkan berbagai komponen pemangku kepentingan dan memperhatikan karakteristik sampah, karakteristik perkotaan serta keberadaan sosial-budaya masyarakat setempat.  Pengolahan sampah tanpa sisa, mulai pengumpulan dan pengangkutan hingga pengolahan sampah menjadi barang bermanfaat untuk masyarakat sekitar.  Perlu adanya peningkatan motivasi segenap lapisan masyarakat untuk peduli terhadap sampah, serta   menjaga lingkungan dan seluruh kota agar selalu tertata rapi dan asri. Pemerintah  Daerah  dapat  memperluas  dan  mengembangkan  lapangan  kerja  bagi  masyarakat setempat.  Pemerintah Daerah bersama dengan masyarakat saling bekerjasama, dalam mempercantik kota dan membuat lingkungan kota menjadi indah dan nyaman.

  DAFTAR RUJUKAN

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: